The Tree Test / Baum Test

The Tree-Drawing Test (TDT, Koch’s Baum Tes) merupakan sebuah tes psikologi yang digunakan untuk evaluasi kepribadian individu dengan cara meminta individu untuk menggambar pohon. Gambar yang dibentuk oleh individu memiliki kesamaan aspek yang menjadi ciri khas individu tersebut seperti ukuran, garis, atau letak.

Tes ini dapat digunakan pada individu normal, anak-anak, dewasa, orang tua, untuk orang umum pada orang yang mengalami patologi seperti pasien schizophrein, orang-orang yang mengalami gangguan mental dan kognitif.

Spesifikasi dari tes ini yaitu individu diberikan kertas kosong tanpa coretan apapun  berukuran A4 ( 11,9 x 8,3 inch) dan diminta untuk menggambar orang lengkap dengan menggunakan pensil, tidak menggunakan  pensil warna ,tanpa ada aturan apapun dan dibebaskan sesuai keinginan masing-masing.

Tes ini bertujuan untuk pemeriksaan kepribadian individu dan untuk mengetahui bagaiman individu mengekspresikan dirinya di lingkungan seperti self image dan keadaan emosi individu.

Sejarah

Penerapan dan penggunaan tes menggambar pohon pertama kali dilakukan oleh Emil Jucker, seorang konsultan pemilihan jurusan dan penasehat pendidikan di Zurich. Untuk membantu mendiagnosis, Jucker memilih pohon sebagai bahan tes setelah mempelajari kebudayaan-kebudayaan dan dongeng-dongeng. Ia menganggap gambar pohon yang dibuat seseorang sebagai pernyataan dari “the being of the person”.

Lalu pada tahun 1952 tes ini dikembangkan oleh Charles Koch, seorang psikolog Jerman, sehingga sekarang dikenal sebagai Baum Test. Tes ini digunakan di berbagai dunia untuk melakukan analisa terhadap kepribadian maupun latar belakang emosional seseorang.

Pohon melambangkan elemen penting dalam mitologi diseluruh dunia, sehingga pohon dipilih sebagai objek yang digambar. Pohon memiliki karakteristik yang hampir sama dengan manusia. Pohon perlu makanan dan minuman untuk tumbuh dan berkembang. Ada pendapat bahwa tipe pohon yang digambar berkaitan dengan struktur psikis atau ketidaksadaran diri seseorang.

Ada dua bentuk analisis yang digunakan untuk menilai dan menginterpretasi tes Baum. Analisis strutur global, yang memandang pohon sebagai satu kesatuan (ukuran keseluruhan pohon, lokasi pohom di kertas) dan analisis struktur internal, fokus pada detail-detail pohon (akar, batang, ranting, dll).

Dua pendekatan yang digunakan dalam tes Baum:

  1. Psikoanalisa, yakni menekankan pada masalah-masalah ketidaksadaran diri. Pohon termasuk dalam tes proyektif karena dapat memancing hal-hal yang tidak disadari oleh orang tersebut.
  2. Fenomenologis, sesuatu yang dibuat orang merupakan gejala yang ditampilkan. Gejala tersebut memiliki makna bagi orang tersebut.

Perkembangan, pada usia-usia tertentu, ternyata gambar-gambar pohon memiliki karakteristik yang khas.

Rasionalisasi Alat Tes

Pengalaman yang luas dan terkonsentrasi dengan gambar orang mengindikasikan keterikatan yang dekat antara figure yang digambar dan kepribadian orang yang menggambar. Ketika peserta memulai menggambar orang, dia akan terdorong untuk menggambar dari beberapa sumber. Figur eksternal sangat bervariasi pada atribut-atribut tubuh yang akan digambar sehingga dalam memutuskan menggambar orang yang seperti apa dengan cara mengidentifikasi melalui proyeksi dan intropeksi.

Peserta harus menggambar dengan sadar pada semua sistem fisiknya. Badan atau self merupakan yang paling menggambarkan semua aktivitas. Menggambar orang, termasuk hasil proyeksi dari citra tubuh, menyediakan sebuah sarana alami untuk mengekspresikan kebutuhan tubuh dan konflik pada seseorang. Itulah sebabnya Machover membuat tes yang meminta individu atau peserta tes untuk menggambar orang.

Rasionalisasi dari Tes Baum adalah eksistensi tumbuhan berarti gerakan ke luar dari kehidupan, pada semua eksistensi manusia bergerak ke dalam dan dikontrol oleh organ pusat, bahkan fisiognomi dibentuk dari dalam. Apa yang diekspresikan pada gambar tumbuhan bukan fisiognomi sebenarnya tetapi hampir sebuah ekspresi gerak ke luar dari apa yang ada di dalam ke dalam bentuk yang memang seperti manusia tetapi dari sifat yang berbeda dalam dirinya. Tetapi hal yang harus dipahami adalah keterbatasan dan tidak dinyatakan bahwa dalam tes ini akan menjelaskan semua ekspresi dari jiwa seseorang.

Petunjuk

  • Garis dan Coretan Gambar

Gambar dihasilkan dari gerakan tangan yang didokumentasikan melalui garis-garis dan coretan. Gerakan ini biasa disebut dengan psikomotorik. Hasil gambar tersebut dipengaruhi oleh kondisi kognisi, emosi, dan kekuatan dorongan yang sedang ada padanya. Coretan yang terbentuk dengan berbagai bagian yang bervariasi memperlihatkan kondisi psikologis seseorang. Bahkan dalam beberapa coretan tertentu dapat menunjukkan kemungkinan gejala psikologis tertentu.

Vitalitas adalah penekanan coretan yang menunjukkan pelepasan energi atau dorongan subjek. Semkain kuat penekanan yang digambar, semakin agresif dorongan yang ingin ia keluarkan. Bila coretan tidak terlalu kuat, pelepasan energi subjek juga tidak begitu kuat. Selain itu, kita juga bisa melihat vitalitas subjek melalui kontunuitas garis yang digambar. Kontunuitas garis tersebut dibagi menjadi dua, konstan dan tersendat-sendat.

Semakin konstan garis yang dibuat, vitalitasnya semakin terarah dan mengarus. Berbeda jika garis digambar dengan tersendat-sendat, maka dapat dikatakan vitalitasnya tidak terbagi secara merata, cepat lelah, dan ragu-ragu dalam melakukan sesuatu. Garis yang dibentuk juga memperlihatkan seberapa yakin kesadaran dan kognisi subjek dalam melakukan sesuatu. Jika garis yang terbentuk lurus, maka semakin yakin kesadaran dan kognisi diri. Jika berkelok dan tidak menentu, maka subjek ragu-ragu. Dan jika garis digambar berulang-ulang, kemungkinan menunjukkan kecemasan yang kuat atau dapat juga represi.

Bila garis dan coretan digambar sampai melampaui batas kertas dapat menunjukkan penyaluran energi yang tidak terkendali, ingin terihat, seringkali memaksakan diri, dan tidak mau mengenali batas-batas perilaku sendiri.

  • Lokasi

Seorang Grafolog, Max Pulver mengemukakan adanya makna tertentu dari lokasi penggambaran subjek. Bagian pohon yang cenderung mengarah ke kiri kemungkinan menunjukkan introvert, sedangkan bila pohon cenderung mengarah ke kanan menunjukkan extrovert. Pada bagian atas gambar tersebut, melambangkan penyebaran dan perkembangan. Bagian bawah melambangkan primitif, naluri, emosi, dan cadangan dorongan diri. Jika bagian bawah pohon digambar dengan akar, melambangkan sesuatu yang berat, penghambat, dan sebagainya.

  • Bagian-bagian Pohon

    1. Akar

Terdapat dua macam akar yang biasa digambar. Pertama akar tertutup, akar jenis ini melambangkan seseorang mampu menyaring informasi yang diterima dan memiliki kontrol atas dirinya sendiri. Kedua akar terbuka, yang berarti munjukkan kemungkinan subjek memasukkan semua informasi yang didapat tanpa penyaringan terlebih dahulu, tidak selektif, impulsif, struktur kepribadian lemah, memiliki ambisi yang besar namun tidak percaya diri.

2. Pangkal Batang

Jika pangkal batang digambar dengan melebar ke kiri, maka dalam kegiatannya terdapat hambatan yang berasal dari masa lalu. Sedangkan pangkal batang yang digambar dengan melebar ke kanan, menunjukkan hambatan yang berhubungan dengan ragu-ragu, cemas akan masa depan, serta selalu berhati-hati.

Jika pangkal batang tergambar dengan melebar ke kedua arah (kanan dan kiri), hal ini kemungkinan menunjukkan hambatan yang berasal dari masa lalu dan kecemasan dirinya akan masa depan, sehingga dirinya sulit berkembang dan diam di tempat. Bila pangkal batang tidak menyatu dengan tanah, itu berarti melambangkan labilitas diri subjek.

Pangkal batang yang tergambar tepat di garis batas bawah kertas menunjukkan sifat regresi dan immaturity bagi orang dewasa, tapi berbeda dengan anak kecil. Bila subjek anak-anak menggambar pangkal batang tepat di garis bawah kertas merupakan hal normal karena anak-anak merasa dirinya adalah bagian dari ibunya. Tapi semakin bertambahnya usia lambat laun anak akan terus mengubah posisi pohonnya ke arah tengah, yaitu egosentrisme.

3. Batang

Ketika batang pohon yang digambarkan mengerucut ke atas menunjukkan penggunaan otot dan fisik yang melebihi penggunaan otak. Mereka terbiasa bekerja seperti tukang, sangat kongkrit, dan bekerja dengan bahan kasar. Jika batang pohon digambarkan bergelombang yang serasi antar kiri dan kanan, maka orang ini bersifat diplomatis dan tidak ingin mencari konflik.

Bila batang digambarkan dengan coretan yang tersendat-sendat (discontinous) menunjukkan keraguan. Jika gambarnya tipis dan terputus, kemungkinan menunjukkan subjek sangat lebah vitalitasnya, sangat ragu, sangat waspada dengan lingkungan.

Jika dalam menggambar batang pohon terdapat tanaman lain di samping-sampingnya, maka terdapat kesukaran dalam dirinya untuk berhubungan dengan orang tertentu. Bila terdapat penggelembungan pada batang pohon, maka dapat dikatakan bahwa subjek memiliki hambatan dalam penyaluran energi dan sulit mengemukakan pendapat sehingga sering memendam segala sesuatunya sendiri. Dan jika batang pohon digambarkan dengan lurus tanpa lekuk apapun, hal ini menunjukkan kesulitan dalam belajar hal-hal baru dan mengembangkan diri.

4. Permukaan Batang

Permukaan batang yang digambarkan memiliki makna bagaimana subjek menghadapi lingkungannya, seperti penyesuaian diri, keadaan lampau, kehidupan afek, dan mekanisme pertahanan diri.

Bentuk coretan yang tajam menandakan dirinya berkemauan keras tanpa memperhatikan orang lain, bentuk coretan bergelombang menunjukan penyesuaian diri yang baik dan kebutuhan akan perhatian besar, pembuatan bayangan pada sebelah kiri menunjukkan kemungkinan introvert, sulit bereaksi, pembuatan bayangan pada sebelah kanan menunjukkan kemungkinan dalam kemudahan dalam beradaptasi dan hubungan sosial, dan jika latar belakang dihitamkan, menunjukkan depresi, neurotic, indikasi schizophrenia, dan juga regresi.

5. Dahan

a. Dahan digambarkan paralel, yaitu dalam satu batang membuat dua dahan yang sejajar menunjukkan kemampuan berprestasi yang tinggi namun diperlukan banyak usaha.

b. Dahan yang digambarkan berlawanan arah, menunjukkan ketidakkonsistenan diri, penyesuaian diri yang kurang, labil, mudah dipengaruhi, kurangnya kontrol, dan tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi realitas. Namun dahan seperti ini juga melambangkan unsur egoisme.

c. Dahan yang bersilang, menunjukkan pertentangan dalam diri dan senang mengkritik serta kurang dapat memutuskan sesuatu.

d. Dahan yang digambarkan terbuka, menunjukkan impulsif dalam diri, mudah marah, serta suka terhadap hal-hal baru.

e. Dahan yang tergambar dengan terpotong menunjukkan bahwa dalam masa perkembangannya terjadi sesuatu. Batang pohon yang patah juga menunjukkan trauma, konflik, kekecewaan, tidak tentram, dan hal yang belum terselesaikan.

6. Mahkota

Mahkota dalam pohon melambangkan kerohanian, jiwa antara kehidupan yang lalu dan masa yang akan datang. Dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Mahkota terbuka menunjukan kesediaan untuk mendapat input dan mengembangkan potensi. Sedangkan sisi negatifnya adalah ketidak-mantapan mengemukakan pendapat, sifat, dan kepribadian.

b. Sedangkan mahkota tertutup tapi bergelombang dan kosong tanpa ornamen memperlihatkan sikap konvensional, tidak orisinil, intelektual untuk diri sendiri. Positifnya adalah ia memiliki keseimbangan dalam kehidupan sosial, tapi tidak produktif.

7. Hal-hal khusus

a. Pohon dilingkari pagar, menunjukkan kebutuhan akan rasa aman, butuh bimbingan, tidak mandiri, tidak percaya diri, mencari dukungan.

b. Bila menggambar bunga, menunjukan kepekaan perasaan, namun bisa juga narsisme.

c. Daun yang digambar detail dapat menggambarkan kemampuan mengamati yang baik.

d. Daun yang berguguran memperlihatkan mudah melepaskan sesuatu, mudah mengekspresikan diri, perasaan halus, kepekaan, pelupa, dan kecenderungan memberikan hadiah.

e. Pohon dengan buah berjatuhan menunjukan suatu kehilangan, pengorbanan, harus melepaskan sesuatu, pelupa, kurang konsentrasi, kepekaan, kurang tabah.

f. Pohon dengan buah digambarkan selalu ingin menunjukkan kemampuan, tidak adanya daya tahan atau keuletan, immediate enjoyment.

g. Sarang burung menunjukan orang yang sangat berani dalam pergaulan, suka mengejek, dan sinis.

h. Apabila seseorang menggambar pohon lebih dari satu, menunjukan tidak percaya diri.

i. Pohon dengan pemandangan, misal gunung, danau, rumput menunjukan suka melamun atau meditasi, melarikan diri dari realitas, fantasi besar, mudah dipengaruhi, unsur malas dan lamban.

j. Pohon diatas bukit atau dilingkari bagian bawahnya menunjukan kemungkinan autisme, terpencil, menyendiri, merasa maha tau, takut, dan terasing.

Kelebihan dan Keterbatasan

Kelebihan dari tes menggambar pohon adalah mudah untuk diadministrasikan, cultur fair, dan tester bisa mengobservasi keterampilan motorik testee.

Sedangkan keterbatasan dari tes ini yaitu kurang objektif dalam penskoringan (Dikarenakan tes tersebut hanya mencocokkan gambar testee dengan kriteria yang ada), dan tidak bisa digunakan pada orang dengan IQ rendah karena mereka cenderung memiliki gambar yang kasar.

Referensi:

Maserati, Michelangelo Stanzani et all . 2015.  Research Article The Tree-Drawing Test (Koch’s Baum Test): A Useful Aid to Diagnose Cognitive Impairment. Behavioural Neurology Volume 2015 (2015), Article ID 534681, 6 pages http://dx.doi.org/10.1155/2015/534681

Koch, C. (1952). The Tree Test: The Tree-Drawing Test As An Aid in Psychodiagnosis. New York: Hans Huber Publisher Berne.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s