Tes Draw A Person (DAP)

Tes draw a person atau tes DAP adalah tes psikologi yang digunakan untuk mengetahui pengalaman kreatif individu, kepribadian dengan cara meminta individu untuk menggambar orang.  Gambar yang dibentuk oleh individu walaupun tidak persis sama tetapi memiliki kesamaan aspek yang menjadi ciri khas individu tersebut seperti ukuran, garis, letak, struktur bentuk tubuh yang biasanya tidak begitu bervariasi atau lebih stabil.

Spesifikasi dari tes ini yaitu individu diberikan kertas kosong tanpa coretan apapun dan diminta untuk menggambar orang lengkap tanpa ada aturan apapun dan dibebaskan sesuai keinginan masing-masing. Tes ini dapat digunakan pada anak-anak, remaja dan lansia.

Tes ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara apa yang digambar dengan kepribadian orang yang menggambar, ekspresi diri atau body images seseorang yang dibentuk pengalaman pribadi, menggambarkan kebutuhan tubuh dan konflik yang dialami, mengetahui emosionalitas,  pshychosexual maturity, kecemasan, guilt, tingkat agresi individ, dan untuk menggambarkan bagaimana individu dalam linkungan kelompok sosialnya.

Sejarah

Tahun 1926, Goodenough mengembangkan tes bernama Draw A Man (DAM) untuk memprediksi kemampuan kognitif anak melalui refleksi dari hasil gambar anak tersebut. DAM digunakan untuk anak usia 3-10 tahun. Asumsi dari DAM yaitu akurasi dan detail yang dihasilkan menunjukan tingkat kematangan intelektual.

Tahun 1948, Buck mengembangkan tes bernama House Tree Person (HTP). Tes ini termasuk tes proyeksi. Gambar rumah dan pohon yang mempunyai kedekatan dengan kehidupan manusia.

Tahun 1949, Machover mengembang tes yang bermana Draw A Person (DAP) untuk mengukur kepribadian. Ia mengembangkan sejumlah hipotesis berdasarkan dari observasi klinis dan penilaian intuitif. Misal, ukuran gambar berkaitan dengan tigkat self esteem, penempatan gambar dalam kertas mereleksikan suasana hati dan orientasi seseorang.

Tahun 1951, Hulse mengembangkan tes yang bernama Draw A family (DAF).

Tahun 1963, Haris membuat revisi tes DAM denagan menambahkan dua form baru (selain menggambar seorang laki-laki, anak juga diminta menggambar seorang wanita dan dirinya sendiri), sistem skoring yang lebih detail dan standardisasi yang lebih luas.

Koppitz (1968, 1984) mengembangkan sistem skor yang lebih modern, quatitative scoring system, yang mengukur pekembagan kognitif anak 5-17 tahun. Dalam criteria penilaian ada yang mendeteksi gangguan emosional (mcneish & Naglieri, 1993). Pada tahun 1993, Mitchel, Trent, Mc Arthur membuat sistem skoring dan interpretasi untuk dewasa, dikembangkan sebagai alat screening gangguan kognitif yang disebabkan psikopatologi, disfungsi neuropsikologis, dll.

Levy mengemukakan beberapa kemungkinan dalam penggunaan Tes DAM (Draw A Man), sebagai berikut:

  1. Gambar orang tersebut merupakan proyeksi dariself concept
  2. Proyeksi dari sikap individu terhadap lingkungan
  3. Proyeks dari ideal self image-nya
  4. DAM sebagai suatu hasil pengamatan individu terhadap lingkungan
  5. Sebagai ekspresi dari pola-pola kebiasaan(habit pattern)
  6. Ekspresi dari keadaan emosinya(emotional tone)
  7. Sebagai sikap subjek terhadap tester dan situasi tes tersebut
  8. Sebagai ekspresi dari sikap individu terhadap kehidupan/masyarakat pada umumnya
  9. Ekspresi sadar dan ketidaksadarannya.

Rasionalisasi Alat Tes

Tes DAP termasuk tes individu dan mengukur kepribadian menurut Machover. Hipotesis yang dilakukan Machover berdasarkan observasi klinis dan penilaian intuitif. Dasar-dasar klinis dari Machover adalah tubuh sebagai alat ekspresi diri seperti yang dijelaskan sebelumnya dan suasana hati figur.

Petunjuk

Asumsi dasarnya bahwa figur orang yang digambarkan seseorang itu berhubungan dengan dorongan, kecemasan, konflik, dan kompensasi karakteristik dari individu tersebut. Demikian, ketika subjek menghapus gambar lengannya dan merubah posisinya terus-menerus, diinterpretasikan bahwa subjek tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan lengannya dalam berperilaku. Jika tangannya digambarkan mengepal layaknya orang tinju, itu berarti dia mengekspresikan peperangan.

  • Kepala

Kepala menggambarkan bagian penting dari self. Kepala juga merupakan pusat dari kekuatan intelektual, sosial dominasi, dan kontrol diri. Ketika ukuran kepala dalam gambar tidak proporsional atau besar, individual tersebut menderita sakit otak atau pernah operasi otak. Dapat juga dipertimbangkan sebagai kelemahan atas kekuatan intelektualnya. Jika kepala digambar terakhir, kemungkinannya terdapat gangguan hubungan interpersonal yang parah. Jika kepala digambar kontras dengan badannya, maka kemungkinan individu mengalami fantasi yang tinggi atau mungkin memiliki perasaan inferior dengan bagian tubuhnya.

  • Bagian-bagian ada Wajah

Mata, telinga, dan mulut merupakan organ yang biasanya berhubungan dengan lingkungan, sehingga perlakuan yang berlebihan menunjukkan kemungkinan kecemasan terhadap organ-organ tersebut.

Bagi orang narsistik dan homoseksual, penggambaran rambut sangat diperhatikan olehnya. Biasanya rambut yang berada di bagian wajah (kumis atau jenggot), diasosiasikan dengan keinginan untuk lebih jantan bagi orang-orang yang merasa bingung dengan kemaskulinannya.

  • Leher

Bagian leher merupakan penghubung antara kepala dan badan, dalam psikoanalisis merupakan penghubung antara superego dan id. Bila leher diambarkan dengan penekanan, maka kemungkinan menunjukkan pemikiran subjek mengenai kebutuhannya untuk mengontrol impuls-impuls yang dirasakan mengancam.

  • Tangan dan Kaki

Tangan yang digambar menjauh atau mendekat dari tubuh menunjukkan hubungan subjek dengan lingkungannya. Bila lengan digambarkan dengan ditaruh ke punggung sehingga hanya sebagian yang tampak, menunjukkan keenganan dirinya untuk berhubungan dengan orang lain. Berbeda dengan tangan yang digambarkan dimasukkan ke saku, diasosiasikan dengan perasaan-perasaan bersalah atas kegiatan tangan tersebut.

Figur pada kaki yang terlihat tidak biasa menggambarkan perasaan aman atau tidak aman terhadap individu tersebut. Tungkai kaki merupakan sarana bergerak dan perlakuan pada bagian ini menunjukkan perasaan seseorang mengenai mobilitas diri.

  • Fitur Tubuh

Badan diasosiasikan dengan dorongan-dorongan dasar. Biasanya subjek cenderung menggambar badan yang mirip dengan keadaan tubuhnya sendiri. Bagi anak-anak sering kali menggambar “trunk” secara sederhana, lonjong atau persegi empat. Kesederhanaan gambar yang dibuat anak-anak menunjukkan tidak adanya bagian tubuh yang penting.

Bahu dianggap sebagai pernyataan dari perasaan kebutuhan akan kekuatan fisik. Biasanya orang normal akan menggambar bahu dengan jelas, sedangkan orang inferior menggambar bahu dengan sebelah bahu lebar. Jika gambar bahu tidak ada, biasanya kemungkinan skizofrenia atau mengalami kerusakan otak.

  • Jenis Kelamin

Sebagian besar orang akan menggambar jenis kelamin yang sama dengan dirinya sendiri. Namun ketika subjek menggambar jenis kelamin kelamin yang berbeda dengan mereka, hal ini harus ditelusuri lebih lanjut. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Bellak, ia mengemukakan alasan mengapa seseorang menggambar yang berebeda jenis kelamin dengan dirinya sendiri, yaitu sexual inversion, kebingungan identitas seksual atau attachment yang kuat dengan orang tua yang berlawanan jenis kelamin dengannya atau mungkin juga attachment yang kuat dengan seseorang yang berlawanan jenis kelamin dengannya. Ketika terdapat subjek yang menanyakan harus menggambar orang yang berjenis kelamin apa, kemungkinan subjek tersebut mengalami kebingungan identitas seksual. Namun, terdapat banyak kemungkinan lain yang harus dipelajari.

  • Aspek Struktural dan Formal Tubuh

Pergerakan tubuh juga memiliki makna tertentu. Bila bentuk tubuh digambarkan dengan banyak aktivitas atau bergerak, kemungkinan menunjukkan subjek suka beraksi atau hypermanic. Sedangkan bila bentuk tubuh digambarkan dengan kaku, kemungkinan subjek orang yang serius dan sangat terkontrol. Jika gambar sangat kurang dalam hal kinestetik, harus diwaspadai sebagai tanda lain dari psychosis.

Hubungan ukuran gambar dengan ruang kosong pada kertas menunjukkan kemungkinan hubungan antara subjek dengan lingkungannya. Jika ukuran gambar kecil, maka asumsinya adalah kemungkinan subjek merasa kecil atau inferior. Jika ukuran gambar besar, maka hipotesisnya adalah kemungkinan subjek menanggapi tekanan lingkungan dengan agresif.

Keunggulan dan Keterbatasan

Kelebihan dari tes ini diantarany culture fair atau bisa digunakan pada orang-orang dengan kultur yang berbeda, dapat mengukur potensi kognitif seorang anak, dapat mengukur g-factor seseorang, mudah untuk diadministrasikan, dan tester bisa mengobservasi keterampilan motorik testee.

Sementara keterbatasan dari tes ini yaitu seperti tes proyektif lainnya, DAP dianggap kurang akurat dikarenakan terlalu banyak spekulasi psikoanalisis, kurang didasari penelitian scientific, dan tes ini lebih cocok untuk anak kecil.

Referensi

Mpangane, Elmon Musa. 2015. Draw a Person Test Diakses pada 28  April 2016 pukul 08:35 WIB. https://www.researchgate.net/publication/281241824_Draw_a_Person_test

Tes DAP (Draw A Person Test). Diakses 27 April 2016 dari http://www.psychologymania.com/2011/07/tes-dap-tes-draw-person.html

Machover, K. (1949). Persolality Projection in The Drawing oh The Human Figure (A Method of Personality Investigation). Illinos: Charles C Thomas.

Draw a Person Test. Diakses pada 28 April 2016, dari http://www.jonahlehrer.com/blog/2014/8/27/the-draw-a-person-test

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s