Tes Wartegg Zeichen (WZT) / The Wartegg Drawing Completion Test (WDCT)

WDCT Merupakan sebuah tes psikologi yang menggunakan gambar dengan teknik proyektif dimana pada setiap gambar terdapat elemen-elemen grafis berupa tanda yang semi structured yang akan menunjukan, memproyeksikan konten dan bagaiamana kedinamisan dan organisasi kepribadian individu tersebut. (Raport, 1977, p.31)

Bornstein’s (2007) mendefinisikan WDCT sebagai sebuah performa individu berdasarkan tes kepribadian yang dapat diklasifikasikan sebagai stimulus attribution test, dimana individu yang mengerjakan tes memberikan arti melalui interpretasi.

Spesifikasi Tes

Tes ini terdiri atas sebuah form yang terbagi atas 8 kotak berukuran 4×4 cm, dimana pada setiap kotak terdapat tanda-tanda grafis berbeda seperti titik, garis. Selama pelaksanaan tes pemeriksa dapat duduk berlwanan  di depan individu yang mengerjakan tes. Pemeriksa dapat memeberikan form test kepada individu yang dites ,memberikan pensil dan melarang untuk menggunaan penghapus serta memberikan instruksi. Individu akan diminta untuk membuat gambar dari tanda grafis yang sudah ada di dalam kotak pada form serta diminta untuk menggambar hal apa yang pertama kali dipikirkan dan diharapkan tidak menggambar sesuatu yang abstrak. Tidak perlu mengerjakan sesuai dengan urutan kotak tetapi dibebaskan sesuai keinginan dan tidak ada hambatan, individu juga dibebaskan menggambar hal apapun. Tes Wartegg sangat mudah diadministrasikan, hanya membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit, skoring sekitar 10-15 menit dan interpretasi sekitar 30 menit dan cukup mudah untuj diinterpretasikan.

Format Tes

Figure 1. The Wartegg Zeichen Test form. Copyright 1997 Hogrefe Verlag GmbH & Co. KG, Göttingen, Germany.

Tujuan Tes

Tes ini dapat digunakan untuk mengetahu kepribadian individu , melihat bagaimana struktur, organisasi, bagaimana tingkat kedinamisan dala sistem kepribadian individu. Dapat digunakan untuk kepentingan pemeriksaan dan pengambilan keputusan di bidang klinis, pendidikan dan juga setting organisasi maupun dalam bidang aplikasi psikologi lainnya. Selain itu juga dapat digunakan untuk melihat apakah seorang individu mengalami masalah patologi atau tidak.

Subjek

Tes ini dapat digunakan pada individu mulai dari anak-anak dengan usia minimal 4 tahun – 4.5 tahun, anak-anak, remaja, dewasa, lansia dan juga cocok digunakan pada individu yang mengalami disabilitas seperti gangguan pendengaran,gangguan kognitif dan lainnya.

Sejarah

Mulanya tes Wartegg ini dikembangkan oleh Krueger dan Sander dari Leipzig University dengan paham Ganzheit Psychologie atau Wholistic Psychology atau Psikologi Gestalt. Lalu dikembangkan oleh Ehrig Wartegg dan Kinget. Tes ini terdiri delapan kotak –empat deret kotak dibagian atsa dan empat deret kotak dibagian bawah, berukuran 1,5 x 1,5 inch- yang masing-masing kotak terdiri dari pola tertentu. Kinget berasumsi bahwa delapan stimulus dapat memberi sarana bagi subjek untuk mengeksplorasi terhadap berbagai nilai yang relevan.

Sander mengatakan bahwa goresan dapat menunjukan empat aspek, yaitu:

  1. Emosi
  2. Imajinasi
    • Imajinasi kombinasi, didasarkan pada persepsi dan penerimaan berbagai hubunagn realitas yang ada.
    • Imajinasi kreatif, didasarkan pada tidak adanya hubungan antara realitas dengan fantasi pribadi.
  3. Intelektual
    • Intelegensi praktis, pola pikir sistematis, fakta dan realitas konkret.
    • Intelegensi spekulatif, subjek lebih stabil dalam setiap pillihan dan tindakan.

Tiga tahap penting dalam menginterpretasi tes Wartegg:

  1. Stimulus drawing relation, melihat hubungan gambar subjek dengan stimulus yang ada, itu merupakan bagian dari gambar atau bukan. Berfungsi untuk melihat persepsi dan afeksi subjek.
  2. Content, melihat isi gambar subjek. Suatu gambar memliki isi atau makna/tidak. Berfungsi untuk melihat kecenderungan minat dan pikiran dari subjek.
  3. Execution, melihat bagaimana cara subjek membuat gambar, dai ukuran gambar, kualitas garis, dll.

Rasionalisasi Alat Tes

Munculnya Wartegg Zeihen Test (WZT) berdasarkan Gestalt Psychology, lebih tepatnya adalah Ganzheit Psychologie yang berkembang di University of Leipzig di bawah pimpinan F. Krueger dan F. Sander. Ganzheit Psychologie mengasumsikan bahwa tidak hanya objek dari eksperimen saja tetapi juga subjek dari eksperimen harus dilihat sebagai struktur. Struktur ini terdiri dari satu set orientasi dan disposisi tertentu, sifat dinamis yang cenderung pada “pemberian bentuk”, menuju pengorganisasian apapun yang diberikan pengalaman.

Pengalaman dibentuk oleh struktur individu yang berarti pengalaman harus mempunyai ciri-ciri tersebut. tetapi dalam kehidupan sehari-hari karakteristik dari struktur individu sulit dipahami sehingga perlu adanya standarisasi. Ketika situasi di mana pemberian bentuk diberikan kebebasan tetapi masih dalam hal yng dibatasi, kegiatan tersebut akan menghasilkan struktur psikis. Itulah alasan Wartegg memberikan stimulus terlebih dahulu dalah setiap kotaknya.

Wartegg juga memilih gambar yang sederhana untuk menjadi stimulus yang nantinya dirangsang oleh orang yang melakukan tes karena akan lebih bebas seseorang dalam mengerjakannya dan potensi dugaan lebih besar proyeksinya.

WZT adalah sebuah tes yang akan disediakan kertas A4 dan terdapat 8 kotak yang dibatasi garis tebal. Setiap kotak tersebut terdapat stimulus yang memberikan kesan yang berbeda-beda dan menghasilkan reaksi berbeda pula bergantung pada kepribadian peserta yang mengerjakan WZT. Peserta harus menggambar di setiap kotak agar menjadi gambar yang bermakna. Berikut adalah karakter setiap kotaknya:

  1. Rangsang 1: Titik, rangsang ini kurang menonjol dan mudah terlewatkan tetapi karena letaknya di tengah-tengah menyebabkan begitu penting dan tidak diabaikan. Oleh karena itu muncul ketegangan antara imajinasi dan pemikiran.
  2. Rangsang 2: Garis kecil bergelombang, menggambarkan sesuatu yang hidup. Rangsang ini menolak perlakuan seadanya tetapi menghendaki suatu integrasi ke sesuatu yang hidup dan dinamik.
  3. Rangsang 3: 3 garis vertikal yang menaik secara teratur, menggambarkan kekakuan, kekerasan, keteraturan, dan kemajuan, memiliki karakteristik mekanik tetapi bertumbuh dan dinamik.
  4. Rangsang 4: segiempat hitam, mengesankan materi yang berat, memiliki karakteristik mekanik tetapi tidak hidup, mudah diasosiasikan dengan suatu yang depresif.
  5. Rangsang 5: 2 garis miring yang berhadapan, menggambarkan konflik dan dinamika.
  6. Rangsang 6: garis-garis horizontal dan vertical, terlihat kaku, apa adanya tetapi karena letaknya tidak di tengah menjadi merupakan tugas yang sulit dan memerlukan perencanaan sungguh-sungguh.
  7. Rangsang 7: titik-titik membentuk lingkaran, menggambarkan sesuatu yang halus dan seperti memaksa sunjek untuk berhati-hati dan tidak gegabah.
  8. Rangsang 8: garis lengkung besar, menggambarkan ketenangan, besar, dan mudah dihadapi.

Wartegg mengakui dalam menggunakan aplikasi dari psikologi membutuhkan tipologi kepribadian yang lebih rinci. Sehingga beliau mengungkapkan 4 dimensi skema dari fungsi dasar yaitu emosi, imajinasi, kecerdasan, dan aktivitas.

Petunjuk

Dalam skoring tes Wartegg terdapat template untuk skoring yang disebut scoring blank yang terbagi menjadi dua serta saling berhadapan. Pada bagian samping scoring blank terdapat daftar kriteria yang berbentuk data kuantitatif dari diagnosis. Angka yang terdapat di bagian atas scoring blank merupakan jumlah total gambar yang diuji. Skoring dapat dilakukan secara horizontal atau vertikal.

Proses skoring dilakukan dengan tiga skala. Poin satu diberikan untuk representasi yang lemah pada suatu variabel, poin dua untuk menandakan yang sedang, dan poin tiga untuk menandakan representasi yang sangat kuat. Skoring dilambangkan dengan simbol-simbol yang memiliki makna tertentu.

Arti dari hasil skor didapatkan dari variabel yang tergantung pada konfigurasi dari skor dari tiap kelompok variabel.

Interpretasi

  1. The Personality Profile

Bagian interpretasi ini menyediakan dasar dari proses tiap individu yang menuju kesimpulan akhir. Dalam interpretasi hasil tes terdapat template yang disebut interpretation blank.

  1. Individualization of the Diagnosis

Dalam menginterpretasi hasil uji gambar semata-mata hanya kepada hasil berat skor dari tiap variabel. Lalu didiskusikan serta dipertimbangkan berat dan karakteristik dari tiap variabel. Dengan cara membandingkan, saling memodifikasi, mengkombinasi, dan lintas pemeriksaan dengan demikian membawa arti dan diagnostik yang unik. Individualisasi bersifat kompleks dan memerlukan pengetahuan mengenai arti dari seluruh kriteria.

Beberapa aspek materi yang harus dipertimbangkan adalah:

  • Waktu menggambar. Waktu rata-rata suatu kelompok mengerjakan pengujian adalah 20 menit. Waktu merupakan hal yang harus dipertimbangkan dengan semua data yang terkumpul.
  • Daya menerima vs tidak reseptif atau tidak adanya daya menerima subjek terhadap stimulus yang diakibatkan oleh (1) hubungan stimulus-menggambar dan (2) urutan pengerjaan gambar.
  • Struktur dari kriteria yang membentuk profil. Profil individu harus dipertimbangkan dari keseluruhan struktur, maka dari itu setiap komponen harus diuji berdasarkan berat masing-masing skor.
  • Variabel yang tidak ada. Absent criteria dipertimbangkan dalam hal rangkaian kelompok dari kriteria-kriteria interpretasi, dan signifikansi dari absent criteria secara langsung diintegrasikan ke dalam kesimpulan dari analisis profil.
  • Variabel yang tidak diberi skor. Kriteria untuk variabel yang tidak diberi skor adalah Form level, Reinforcement, Texture and function of the Shading, Wholes, Context-Isolation, Clarity-Vaguesness dan popularitas.
  • Kekhasan yang gambar yang ditampilkan. Merupakan sumber informasi yang bersifat sekunder, tidak ada dasar objektif dalam penginterpretasiannya. Namun, kontribusi mereka dapat diperhitungkan karena karakter individual yang tinggi mampu menggaris-bawahi tren diagnostik, membedakan poin-poin kompleks atau menghilangkan ambiguitas.

Untuk menghasilkan hasil diagnosis individual  yang tepat diperlukan analisis data pribadi dan aspek-aspek yang telah disebutkan di atas.

Keunggulan dan Keterbatasan

Keunggulan

  • Culture fair
  • Tester bisa mengobservasi keterampilan motorik testee
  • Bisa mengukur kemampuan testee untuk menganalisa sintesa, penempatan diri pada lingkungan sosial, kemampuan beraspirasi, dan kemampuan orang dalam menjalin relasi sosial

Keterbatasan

  • Interpretasi cenderung terkesan subjektif
  • Tidak memiliki penilaian yang terstandardisasi

 

Referensi:

Crissi, Alessandro dan Francesso Dentale. 2016. The Wartegg Drawing Completion Test: Inter-rater Agreement and Criterion Validity of Three New Scoring Categories.      Sapienza Universitá di Roma, Italia. International Journal of Psychology and            Psychological Therapy, 2016, 16, 1, 83-90

Grønnerød, Jarna Soilevuo. 2011. The Wartegg Zeichen Test: A Literature Overview and a Meta-Analysis of Reliability and Validity. Journal of Psychological Assessment © 2011 American Psychological Association 2012, Vol. 24, No. 2, 476–489

Iskandarsyah, A., Kustimah, & Purba, F. D. (2008). Laporan Akhir Penelitian Muda UNPAD: Hubungan Antara Hasil Tes Rorschach dengan Wartegg Zeihen Test (WZT) Dalam Menggali Aspek Emosi dari Kepribadian. Retrieved April 28, 2016, from http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/08/hubungan_antara_hasil_tes_rorschach_dengan_wzt1.pdf

Kinget, G. M. (1952). The Drawing-Completion Test: A Projective Technique for The Investigation of Personality Based on The Wartegg Test Blank. New York: Grune & Stratton.

Roivainen, E. (2009). A Brief History of the Wartegg Drawing Test. Retrieved April 28, 2016, from http://gth.krammerbuch.at/sites/default/files/articles/Create%20Article/05Roivanen-KORR2.pdf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s