Instruksi Tes Draw A Person

Perlengkapan

  • Stopwatch
  • Kertas HVS kosong (8,5” x 11”)
  • Pensil

Pedoman Pelaksanaan (Instruksi)

“Kepada Saudara telah dibagikan sehelai kertas kosong. Ambilah kertas itu dan di sudut kiri atas ini…” (tunjukkan kepada OP)… tulislah:

Nama                          :           nama lengkap Saudara;

Jenis Kelamin          :

Usia                             :

“Jika sudah selesai, letakkanlah alat tulis Saudara dan perhatikan ke depan.”

(… setelah semua OP memperhatikan ke depan …)

“Sekarang balikkan kertas Saudara demikian,” (ditunjukkan kepada OP) “… sehingga Saudara menghadapi halaman yang seluruhnya kosong.” (ditunjukkan kepada OP)

“Perhatikan!

Seluruh halaman ini sekarang adalah milik Saudara.” (tunjukkan seluruh halaman yang kosong)

“Tugas Saudara adalah: GAMBARLAH SATU FIGUR MANUSIA

Gambarlah satu figure manusia yang menurut saudara benar-benar menggambarkan manusia yang seharusnya.

“Saudara hanya boleh  menggunakan pensil yang kami pinjamkan. Tidak diperkenankan menggunakan penghapus maupun penggaris.

Apakah ada pertanyaan?” (tunggu sebentar…)

“Jika tidak ada, ambillah pensil Saudara dan silakan MULAI.

Waktunya 10 menit.” (diberitahukan kepada OP)

setelah waktu 10 menit berlalu…)

“BERHENTI!

Berilah jenis kelamin, usia, dan jelaskan aktivitas apa yang sedang dikerjakan oleh figure yang sudah saudara gambarkan.

“Sekarang letakkan gambar Saudara di sisi meja yang kosong.”

(Pemeriksa mengumpulkan gambar dan pensil.)

(Selanjutnya pemeriksa memberikan kertas kosong kedua dan menginstruksikan kembali OP untuk menggambar figure manusia)

Selanjutnya, tugas saudara adalah menggambar satu figure manusia yang memiliki jenis kelamin berlawanan dari gambar sebelumnya.

“Saudara hanya boleh menggunakan pensil yang kami pinjamkan. Tidak diperkenankan menggunakan penghapus maupun penggaris.

Apakah ada pertanyaan?” (tunggu sebentar…)

“Jika tidak ada, ambillah pensil Saudara dan silakan MULAI.

Waktunya 10 menit.” (diberitahukan kepada OP)

setelah waktu 10 menit berlalu…)

“BERHENTI!

Berilah jenis kelamin, usia, dan jelaskan aktivitas apa yang sedang dikerjakan oleh figure yang sudah saudara gambarkan.

“Letakkan pensil Saudara.” (Pemeriksa mengobservasi apakah OP telah meletakkan pensilnya)

“Sekarang letakkan gambar Saudara di sisi meja yang kosong.”

(Pemeriksa mengumpulkan gambar dan pensil.)

Instruksi The Tree Test

Perlengkapan

  • Stopwatch
  • Kertas HVS kosong
  • Pensil

Pedoman Pelaksanaan (Instruksi)

”Kepada Saudara telah dibagikan sehelai kertas kosong. Ambilah kertas itu dan di sudut kiri atas ini… (tunjukkan pada OP )…tulislah :

Nomor                                  : nomor pemeriksaan Saudara;

Nama                                   : nama lengkap Saudara;

Tanggal lahi                      : tanggal, bulan, dan yahun lahir Saudara

Tanggal Pemeriksaan    : taunggal hari ini (sebutkan tanggal, bulan, dan tahunnya)

“Jika sudah selesai, letakkanlah alat tulis Saudara dan perhatikan ke depan. “

(…setelah semua OP memperhatikan ke depan…)

“Sekarang balikkan kertas Saudara demikian… (tunjukkan pada OP) sehingga Saudara menghadapi halaman yang seluruhnya kosong.” (tunjukkan pada OP)

“Perhatikan!

Seluruh halaman ini sekarang adalah milik Saudara”. (tunjukkan seluruh halaman yang kosong)

“Tugas Saudara adalah: Gambarlah suatu pohon!

Yang dimaksud dengan pohon adalah sebagai berikut:

  • Jenis rumput bukan pohon, jadi jangan digambar,
  • Jenis pisang bukan pohon, jadi jangan digambar,
  • Jenis bambu bukan pohon, jadi jangan digambar,
  • Jenis kelapa bukan pohon, jadi jangan digambar,
  • Jenis cemara bukan pohon, jadi jangan digambar,

Jadi, gambarlah pohon yang lainnya.”

“Saudara hanya boleh menggunakan pensil yang kami pinjamkan. Tidak diperkenankan menggunakan penghapus maupun penggaris.”

“Apakah ada pertanyaan? “ (tunggu sebentar…)

“Jika tidak ada, ambilah pensil Saudara dan silakan Mulai. Waktunya 10 menit.”

— Setelah 10 Menit —

“Berhenti! Berilah nama pohon yang Saudara gambar itu, dibawahnya atau dibagian lain yang kosong.”

“Letakkan pensil Saudara.” (pemeriksa mengobservasi apakah OP telah meletakkan pensilnya.)

“Sekarang letakkan gambar Saudara di sisi meja yang kosong.” (pemeriksa mengumpulkan gambar dan pensil)

CATATAN:

  1. Jika OP menanyakan “apakah boleh menggambar…? (menyebut nama pohon yang tidak boleh digambar), Pemeriksa harus menjawab : “Tidak! Silahkan menggambar pohon yang lain.”
  2. Jika OP menanyakan “apakah boleh menggambar…? (menyebut nama pohon yang boleh digambar), pemeriksa harus menjawab : “Terserah!”
  3. Jika Op menanyakan:

“apakah dengan buahnya?”

“apakah lengkap dengan daun, bunga, dan buahnya?”

“apakah boleh lebih dari satu pohon?”

“apakah boleh dengan pemandangan?”

“apakah kertasnya boleh dimiringkan?”

Pengawas harus menjawab: “Terserah!”

Apabila OP telah terlanjur menggambar bukan pohon yang diperkenankan, gantilah kertasnya dan berilah instruksi singkat secara individual untuk menggambar pohon yang lain. Gambar yang dibuat pertama tadi tetap harus dimasukkan ke dalam berkas OP yang bersangkutan, di belakang gambar pohon yang betul.

Tes Draw A Person (DAP)

Tes draw a person atau tes DAP adalah tes psikologi yang digunakan untuk mengetahui pengalaman kreatif individu, kepribadian dengan cara meminta individu untuk menggambar orang.  Gambar yang dibentuk oleh individu walaupun tidak persis sama tetapi memiliki kesamaan aspek yang menjadi ciri khas individu tersebut seperti ukuran, garis, letak, struktur bentuk tubuh yang biasanya tidak begitu bervariasi atau lebih stabil.

Spesifikasi dari tes ini yaitu individu diberikan kertas kosong tanpa coretan apapun dan diminta untuk menggambar orang lengkap tanpa ada aturan apapun dan dibebaskan sesuai keinginan masing-masing. Tes ini dapat digunakan pada anak-anak, remaja dan lansia.

Tes ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara apa yang digambar dengan kepribadian orang yang menggambar, ekspresi diri atau body images seseorang yang dibentuk pengalaman pribadi, menggambarkan kebutuhan tubuh dan konflik yang dialami, mengetahui emosionalitas,  pshychosexual maturity, kecemasan, guilt, tingkat agresi individ, dan untuk menggambarkan bagaimana individu dalam linkungan kelompok sosialnya.

Sejarah

Tahun 1926, Goodenough mengembangkan tes bernama Draw A Man (DAM) untuk memprediksi kemampuan kognitif anak melalui refleksi dari hasil gambar anak tersebut. DAM digunakan untuk anak usia 3-10 tahun. Asumsi dari DAM yaitu akurasi dan detail yang dihasilkan menunjukan tingkat kematangan intelektual.

Tahun 1948, Buck mengembangkan tes bernama House Tree Person (HTP). Tes ini termasuk tes proyeksi. Gambar rumah dan pohon yang mempunyai kedekatan dengan kehidupan manusia.

Tahun 1949, Machover mengembang tes yang bermana Draw A Person (DAP) untuk mengukur kepribadian. Ia mengembangkan sejumlah hipotesis berdasarkan dari observasi klinis dan penilaian intuitif. Misal, ukuran gambar berkaitan dengan tigkat self esteem, penempatan gambar dalam kertas mereleksikan suasana hati dan orientasi seseorang.

Tahun 1951, Hulse mengembangkan tes yang bernama Draw A family (DAF).

Tahun 1963, Haris membuat revisi tes DAM denagan menambahkan dua form baru (selain menggambar seorang laki-laki, anak juga diminta menggambar seorang wanita dan dirinya sendiri), sistem skoring yang lebih detail dan standardisasi yang lebih luas.

Koppitz (1968, 1984) mengembangkan sistem skor yang lebih modern, quatitative scoring system, yang mengukur pekembagan kognitif anak 5-17 tahun. Dalam criteria penilaian ada yang mendeteksi gangguan emosional (mcneish & Naglieri, 1993). Pada tahun 1993, Mitchel, Trent, Mc Arthur membuat sistem skoring dan interpretasi untuk dewasa, dikembangkan sebagai alat screening gangguan kognitif yang disebabkan psikopatologi, disfungsi neuropsikologis, dll.

Levy mengemukakan beberapa kemungkinan dalam penggunaan Tes DAM (Draw A Man), sebagai berikut:

  1. Gambar orang tersebut merupakan proyeksi dariself concept
  2. Proyeksi dari sikap individu terhadap lingkungan
  3. Proyeks dari ideal self image-nya
  4. DAM sebagai suatu hasil pengamatan individu terhadap lingkungan
  5. Sebagai ekspresi dari pola-pola kebiasaan(habit pattern)
  6. Ekspresi dari keadaan emosinya(emotional tone)
  7. Sebagai sikap subjek terhadap tester dan situasi tes tersebut
  8. Sebagai ekspresi dari sikap individu terhadap kehidupan/masyarakat pada umumnya
  9. Ekspresi sadar dan ketidaksadarannya.

Rasionalisasi Alat Tes

Tes DAP termasuk tes individu dan mengukur kepribadian menurut Machover. Hipotesis yang dilakukan Machover berdasarkan observasi klinis dan penilaian intuitif. Dasar-dasar klinis dari Machover adalah tubuh sebagai alat ekspresi diri seperti yang dijelaskan sebelumnya dan suasana hati figur.

Petunjuk

Asumsi dasarnya bahwa figur orang yang digambarkan seseorang itu berhubungan dengan dorongan, kecemasan, konflik, dan kompensasi karakteristik dari individu tersebut. Demikian, ketika subjek menghapus gambar lengannya dan merubah posisinya terus-menerus, diinterpretasikan bahwa subjek tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan lengannya dalam berperilaku. Jika tangannya digambarkan mengepal layaknya orang tinju, itu berarti dia mengekspresikan peperangan.

  • Kepala

Kepala menggambarkan bagian penting dari self. Kepala juga merupakan pusat dari kekuatan intelektual, sosial dominasi, dan kontrol diri. Ketika ukuran kepala dalam gambar tidak proporsional atau besar, individual tersebut menderita sakit otak atau pernah operasi otak. Dapat juga dipertimbangkan sebagai kelemahan atas kekuatan intelektualnya. Jika kepala digambar terakhir, kemungkinannya terdapat gangguan hubungan interpersonal yang parah. Jika kepala digambar kontras dengan badannya, maka kemungkinan individu mengalami fantasi yang tinggi atau mungkin memiliki perasaan inferior dengan bagian tubuhnya.

  • Bagian-bagian ada Wajah

Mata, telinga, dan mulut merupakan organ yang biasanya berhubungan dengan lingkungan, sehingga perlakuan yang berlebihan menunjukkan kemungkinan kecemasan terhadap organ-organ tersebut.

Bagi orang narsistik dan homoseksual, penggambaran rambut sangat diperhatikan olehnya. Biasanya rambut yang berada di bagian wajah (kumis atau jenggot), diasosiasikan dengan keinginan untuk lebih jantan bagi orang-orang yang merasa bingung dengan kemaskulinannya.

  • Leher

Bagian leher merupakan penghubung antara kepala dan badan, dalam psikoanalisis merupakan penghubung antara superego dan id. Bila leher diambarkan dengan penekanan, maka kemungkinan menunjukkan pemikiran subjek mengenai kebutuhannya untuk mengontrol impuls-impuls yang dirasakan mengancam.

  • Tangan dan Kaki

Tangan yang digambar menjauh atau mendekat dari tubuh menunjukkan hubungan subjek dengan lingkungannya. Bila lengan digambarkan dengan ditaruh ke punggung sehingga hanya sebagian yang tampak, menunjukkan keenganan dirinya untuk berhubungan dengan orang lain. Berbeda dengan tangan yang digambarkan dimasukkan ke saku, diasosiasikan dengan perasaan-perasaan bersalah atas kegiatan tangan tersebut.

Figur pada kaki yang terlihat tidak biasa menggambarkan perasaan aman atau tidak aman terhadap individu tersebut. Tungkai kaki merupakan sarana bergerak dan perlakuan pada bagian ini menunjukkan perasaan seseorang mengenai mobilitas diri.

  • Fitur Tubuh

Badan diasosiasikan dengan dorongan-dorongan dasar. Biasanya subjek cenderung menggambar badan yang mirip dengan keadaan tubuhnya sendiri. Bagi anak-anak sering kali menggambar “trunk” secara sederhana, lonjong atau persegi empat. Kesederhanaan gambar yang dibuat anak-anak menunjukkan tidak adanya bagian tubuh yang penting.

Bahu dianggap sebagai pernyataan dari perasaan kebutuhan akan kekuatan fisik. Biasanya orang normal akan menggambar bahu dengan jelas, sedangkan orang inferior menggambar bahu dengan sebelah bahu lebar. Jika gambar bahu tidak ada, biasanya kemungkinan skizofrenia atau mengalami kerusakan otak.

  • Jenis Kelamin

Sebagian besar orang akan menggambar jenis kelamin yang sama dengan dirinya sendiri. Namun ketika subjek menggambar jenis kelamin kelamin yang berbeda dengan mereka, hal ini harus ditelusuri lebih lanjut. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Bellak, ia mengemukakan alasan mengapa seseorang menggambar yang berebeda jenis kelamin dengan dirinya sendiri, yaitu sexual inversion, kebingungan identitas seksual atau attachment yang kuat dengan orang tua yang berlawanan jenis kelamin dengannya atau mungkin juga attachment yang kuat dengan seseorang yang berlawanan jenis kelamin dengannya. Ketika terdapat subjek yang menanyakan harus menggambar orang yang berjenis kelamin apa, kemungkinan subjek tersebut mengalami kebingungan identitas seksual. Namun, terdapat banyak kemungkinan lain yang harus dipelajari.

  • Aspek Struktural dan Formal Tubuh

Pergerakan tubuh juga memiliki makna tertentu. Bila bentuk tubuh digambarkan dengan banyak aktivitas atau bergerak, kemungkinan menunjukkan subjek suka beraksi atau hypermanic. Sedangkan bila bentuk tubuh digambarkan dengan kaku, kemungkinan subjek orang yang serius dan sangat terkontrol. Jika gambar sangat kurang dalam hal kinestetik, harus diwaspadai sebagai tanda lain dari psychosis.

Hubungan ukuran gambar dengan ruang kosong pada kertas menunjukkan kemungkinan hubungan antara subjek dengan lingkungannya. Jika ukuran gambar kecil, maka asumsinya adalah kemungkinan subjek merasa kecil atau inferior. Jika ukuran gambar besar, maka hipotesisnya adalah kemungkinan subjek menanggapi tekanan lingkungan dengan agresif.

Keunggulan dan Keterbatasan

Kelebihan dari tes ini diantarany culture fair atau bisa digunakan pada orang-orang dengan kultur yang berbeda, dapat mengukur potensi kognitif seorang anak, dapat mengukur g-factor seseorang, mudah untuk diadministrasikan, dan tester bisa mengobservasi keterampilan motorik testee.

Sementara keterbatasan dari tes ini yaitu seperti tes proyektif lainnya, DAP dianggap kurang akurat dikarenakan terlalu banyak spekulasi psikoanalisis, kurang didasari penelitian scientific, dan tes ini lebih cocok untuk anak kecil.

Referensi

Mpangane, Elmon Musa. 2015. Draw a Person Test Diakses pada 28  April 2016 pukul 08:35 WIB. https://www.researchgate.net/publication/281241824_Draw_a_Person_test

Tes DAP (Draw A Person Test). Diakses 27 April 2016 dari http://www.psychologymania.com/2011/07/tes-dap-tes-draw-person.html

Machover, K. (1949). Persolality Projection in The Drawing oh The Human Figure (A Method of Personality Investigation). Illinos: Charles C Thomas.

Draw a Person Test. Diakses pada 28 April 2016, dari http://www.jonahlehrer.com/blog/2014/8/27/the-draw-a-person-test

The Tree Test / Baum Test

The Tree-Drawing Test (TDT, Koch’s Baum Tes) merupakan sebuah tes psikologi yang digunakan untuk evaluasi kepribadian individu dengan cara meminta individu untuk menggambar pohon. Gambar yang dibentuk oleh individu memiliki kesamaan aspek yang menjadi ciri khas individu tersebut seperti ukuran, garis, atau letak.

Tes ini dapat digunakan pada individu normal, anak-anak, dewasa, orang tua, untuk orang umum pada orang yang mengalami patologi seperti pasien schizophrein, orang-orang yang mengalami gangguan mental dan kognitif.

Spesifikasi dari tes ini yaitu individu diberikan kertas kosong tanpa coretan apapun  berukuran A4 ( 11,9 x 8,3 inch) dan diminta untuk menggambar orang lengkap dengan menggunakan pensil, tidak menggunakan  pensil warna ,tanpa ada aturan apapun dan dibebaskan sesuai keinginan masing-masing.

Tes ini bertujuan untuk pemeriksaan kepribadian individu dan untuk mengetahui bagaiman individu mengekspresikan dirinya di lingkungan seperti self image dan keadaan emosi individu.

Sejarah

Penerapan dan penggunaan tes menggambar pohon pertama kali dilakukan oleh Emil Jucker, seorang konsultan pemilihan jurusan dan penasehat pendidikan di Zurich. Untuk membantu mendiagnosis, Jucker memilih pohon sebagai bahan tes setelah mempelajari kebudayaan-kebudayaan dan dongeng-dongeng. Ia menganggap gambar pohon yang dibuat seseorang sebagai pernyataan dari “the being of the person”.

Lalu pada tahun 1952 tes ini dikembangkan oleh Charles Koch, seorang psikolog Jerman, sehingga sekarang dikenal sebagai Baum Test. Tes ini digunakan di berbagai dunia untuk melakukan analisa terhadap kepribadian maupun latar belakang emosional seseorang.

Pohon melambangkan elemen penting dalam mitologi diseluruh dunia, sehingga pohon dipilih sebagai objek yang digambar. Pohon memiliki karakteristik yang hampir sama dengan manusia. Pohon perlu makanan dan minuman untuk tumbuh dan berkembang. Ada pendapat bahwa tipe pohon yang digambar berkaitan dengan struktur psikis atau ketidaksadaran diri seseorang.

Ada dua bentuk analisis yang digunakan untuk menilai dan menginterpretasi tes Baum. Analisis strutur global, yang memandang pohon sebagai satu kesatuan (ukuran keseluruhan pohon, lokasi pohom di kertas) dan analisis struktur internal, fokus pada detail-detail pohon (akar, batang, ranting, dll).

Dua pendekatan yang digunakan dalam tes Baum:

  1. Psikoanalisa, yakni menekankan pada masalah-masalah ketidaksadaran diri. Pohon termasuk dalam tes proyektif karena dapat memancing hal-hal yang tidak disadari oleh orang tersebut.
  2. Fenomenologis, sesuatu yang dibuat orang merupakan gejala yang ditampilkan. Gejala tersebut memiliki makna bagi orang tersebut.

Perkembangan, pada usia-usia tertentu, ternyata gambar-gambar pohon memiliki karakteristik yang khas.

Rasionalisasi Alat Tes

Pengalaman yang luas dan terkonsentrasi dengan gambar orang mengindikasikan keterikatan yang dekat antara figure yang digambar dan kepribadian orang yang menggambar. Ketika peserta memulai menggambar orang, dia akan terdorong untuk menggambar dari beberapa sumber. Figur eksternal sangat bervariasi pada atribut-atribut tubuh yang akan digambar sehingga dalam memutuskan menggambar orang yang seperti apa dengan cara mengidentifikasi melalui proyeksi dan intropeksi.

Peserta harus menggambar dengan sadar pada semua sistem fisiknya. Badan atau self merupakan yang paling menggambarkan semua aktivitas. Menggambar orang, termasuk hasil proyeksi dari citra tubuh, menyediakan sebuah sarana alami untuk mengekspresikan kebutuhan tubuh dan konflik pada seseorang. Itulah sebabnya Machover membuat tes yang meminta individu atau peserta tes untuk menggambar orang.

Rasionalisasi dari Tes Baum adalah eksistensi tumbuhan berarti gerakan ke luar dari kehidupan, pada semua eksistensi manusia bergerak ke dalam dan dikontrol oleh organ pusat, bahkan fisiognomi dibentuk dari dalam. Apa yang diekspresikan pada gambar tumbuhan bukan fisiognomi sebenarnya tetapi hampir sebuah ekspresi gerak ke luar dari apa yang ada di dalam ke dalam bentuk yang memang seperti manusia tetapi dari sifat yang berbeda dalam dirinya. Tetapi hal yang harus dipahami adalah keterbatasan dan tidak dinyatakan bahwa dalam tes ini akan menjelaskan semua ekspresi dari jiwa seseorang.

Petunjuk

  • Garis dan Coretan Gambar

Gambar dihasilkan dari gerakan tangan yang didokumentasikan melalui garis-garis dan coretan. Gerakan ini biasa disebut dengan psikomotorik. Hasil gambar tersebut dipengaruhi oleh kondisi kognisi, emosi, dan kekuatan dorongan yang sedang ada padanya. Coretan yang terbentuk dengan berbagai bagian yang bervariasi memperlihatkan kondisi psikologis seseorang. Bahkan dalam beberapa coretan tertentu dapat menunjukkan kemungkinan gejala psikologis tertentu.

Vitalitas adalah penekanan coretan yang menunjukkan pelepasan energi atau dorongan subjek. Semkain kuat penekanan yang digambar, semakin agresif dorongan yang ingin ia keluarkan. Bila coretan tidak terlalu kuat, pelepasan energi subjek juga tidak begitu kuat. Selain itu, kita juga bisa melihat vitalitas subjek melalui kontunuitas garis yang digambar. Kontunuitas garis tersebut dibagi menjadi dua, konstan dan tersendat-sendat.

Semakin konstan garis yang dibuat, vitalitasnya semakin terarah dan mengarus. Berbeda jika garis digambar dengan tersendat-sendat, maka dapat dikatakan vitalitasnya tidak terbagi secara merata, cepat lelah, dan ragu-ragu dalam melakukan sesuatu. Garis yang dibentuk juga memperlihatkan seberapa yakin kesadaran dan kognisi subjek dalam melakukan sesuatu. Jika garis yang terbentuk lurus, maka semakin yakin kesadaran dan kognisi diri. Jika berkelok dan tidak menentu, maka subjek ragu-ragu. Dan jika garis digambar berulang-ulang, kemungkinan menunjukkan kecemasan yang kuat atau dapat juga represi.

Bila garis dan coretan digambar sampai melampaui batas kertas dapat menunjukkan penyaluran energi yang tidak terkendali, ingin terihat, seringkali memaksakan diri, dan tidak mau mengenali batas-batas perilaku sendiri.

  • Lokasi

Seorang Grafolog, Max Pulver mengemukakan adanya makna tertentu dari lokasi penggambaran subjek. Bagian pohon yang cenderung mengarah ke kiri kemungkinan menunjukkan introvert, sedangkan bila pohon cenderung mengarah ke kanan menunjukkan extrovert. Pada bagian atas gambar tersebut, melambangkan penyebaran dan perkembangan. Bagian bawah melambangkan primitif, naluri, emosi, dan cadangan dorongan diri. Jika bagian bawah pohon digambar dengan akar, melambangkan sesuatu yang berat, penghambat, dan sebagainya.

  • Bagian-bagian Pohon

    1. Akar

Terdapat dua macam akar yang biasa digambar. Pertama akar tertutup, akar jenis ini melambangkan seseorang mampu menyaring informasi yang diterima dan memiliki kontrol atas dirinya sendiri. Kedua akar terbuka, yang berarti munjukkan kemungkinan subjek memasukkan semua informasi yang didapat tanpa penyaringan terlebih dahulu, tidak selektif, impulsif, struktur kepribadian lemah, memiliki ambisi yang besar namun tidak percaya diri.

2. Pangkal Batang

Jika pangkal batang digambar dengan melebar ke kiri, maka dalam kegiatannya terdapat hambatan yang berasal dari masa lalu. Sedangkan pangkal batang yang digambar dengan melebar ke kanan, menunjukkan hambatan yang berhubungan dengan ragu-ragu, cemas akan masa depan, serta selalu berhati-hati.

Jika pangkal batang tergambar dengan melebar ke kedua arah (kanan dan kiri), hal ini kemungkinan menunjukkan hambatan yang berasal dari masa lalu dan kecemasan dirinya akan masa depan, sehingga dirinya sulit berkembang dan diam di tempat. Bila pangkal batang tidak menyatu dengan tanah, itu berarti melambangkan labilitas diri subjek.

Pangkal batang yang tergambar tepat di garis batas bawah kertas menunjukkan sifat regresi dan immaturity bagi orang dewasa, tapi berbeda dengan anak kecil. Bila subjek anak-anak menggambar pangkal batang tepat di garis bawah kertas merupakan hal normal karena anak-anak merasa dirinya adalah bagian dari ibunya. Tapi semakin bertambahnya usia lambat laun anak akan terus mengubah posisi pohonnya ke arah tengah, yaitu egosentrisme.

3. Batang

Ketika batang pohon yang digambarkan mengerucut ke atas menunjukkan penggunaan otot dan fisik yang melebihi penggunaan otak. Mereka terbiasa bekerja seperti tukang, sangat kongkrit, dan bekerja dengan bahan kasar. Jika batang pohon digambarkan bergelombang yang serasi antar kiri dan kanan, maka orang ini bersifat diplomatis dan tidak ingin mencari konflik.

Bila batang digambarkan dengan coretan yang tersendat-sendat (discontinous) menunjukkan keraguan. Jika gambarnya tipis dan terputus, kemungkinan menunjukkan subjek sangat lebah vitalitasnya, sangat ragu, sangat waspada dengan lingkungan.

Jika dalam menggambar batang pohon terdapat tanaman lain di samping-sampingnya, maka terdapat kesukaran dalam dirinya untuk berhubungan dengan orang tertentu. Bila terdapat penggelembungan pada batang pohon, maka dapat dikatakan bahwa subjek memiliki hambatan dalam penyaluran energi dan sulit mengemukakan pendapat sehingga sering memendam segala sesuatunya sendiri. Dan jika batang pohon digambarkan dengan lurus tanpa lekuk apapun, hal ini menunjukkan kesulitan dalam belajar hal-hal baru dan mengembangkan diri.

4. Permukaan Batang

Permukaan batang yang digambarkan memiliki makna bagaimana subjek menghadapi lingkungannya, seperti penyesuaian diri, keadaan lampau, kehidupan afek, dan mekanisme pertahanan diri.

Bentuk coretan yang tajam menandakan dirinya berkemauan keras tanpa memperhatikan orang lain, bentuk coretan bergelombang menunjukan penyesuaian diri yang baik dan kebutuhan akan perhatian besar, pembuatan bayangan pada sebelah kiri menunjukkan kemungkinan introvert, sulit bereaksi, pembuatan bayangan pada sebelah kanan menunjukkan kemungkinan dalam kemudahan dalam beradaptasi dan hubungan sosial, dan jika latar belakang dihitamkan, menunjukkan depresi, neurotic, indikasi schizophrenia, dan juga regresi.

5. Dahan

a. Dahan digambarkan paralel, yaitu dalam satu batang membuat dua dahan yang sejajar menunjukkan kemampuan berprestasi yang tinggi namun diperlukan banyak usaha.

b. Dahan yang digambarkan berlawanan arah, menunjukkan ketidakkonsistenan diri, penyesuaian diri yang kurang, labil, mudah dipengaruhi, kurangnya kontrol, dan tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi realitas. Namun dahan seperti ini juga melambangkan unsur egoisme.

c. Dahan yang bersilang, menunjukkan pertentangan dalam diri dan senang mengkritik serta kurang dapat memutuskan sesuatu.

d. Dahan yang digambarkan terbuka, menunjukkan impulsif dalam diri, mudah marah, serta suka terhadap hal-hal baru.

e. Dahan yang tergambar dengan terpotong menunjukkan bahwa dalam masa perkembangannya terjadi sesuatu. Batang pohon yang patah juga menunjukkan trauma, konflik, kekecewaan, tidak tentram, dan hal yang belum terselesaikan.

6. Mahkota

Mahkota dalam pohon melambangkan kerohanian, jiwa antara kehidupan yang lalu dan masa yang akan datang. Dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Mahkota terbuka menunjukan kesediaan untuk mendapat input dan mengembangkan potensi. Sedangkan sisi negatifnya adalah ketidak-mantapan mengemukakan pendapat, sifat, dan kepribadian.

b. Sedangkan mahkota tertutup tapi bergelombang dan kosong tanpa ornamen memperlihatkan sikap konvensional, tidak orisinil, intelektual untuk diri sendiri. Positifnya adalah ia memiliki keseimbangan dalam kehidupan sosial, tapi tidak produktif.

7. Hal-hal khusus

a. Pohon dilingkari pagar, menunjukkan kebutuhan akan rasa aman, butuh bimbingan, tidak mandiri, tidak percaya diri, mencari dukungan.

b. Bila menggambar bunga, menunjukan kepekaan perasaan, namun bisa juga narsisme.

c. Daun yang digambar detail dapat menggambarkan kemampuan mengamati yang baik.

d. Daun yang berguguran memperlihatkan mudah melepaskan sesuatu, mudah mengekspresikan diri, perasaan halus, kepekaan, pelupa, dan kecenderungan memberikan hadiah.

e. Pohon dengan buah berjatuhan menunjukan suatu kehilangan, pengorbanan, harus melepaskan sesuatu, pelupa, kurang konsentrasi, kepekaan, kurang tabah.

f. Pohon dengan buah digambarkan selalu ingin menunjukkan kemampuan, tidak adanya daya tahan atau keuletan, immediate enjoyment.

g. Sarang burung menunjukan orang yang sangat berani dalam pergaulan, suka mengejek, dan sinis.

h. Apabila seseorang menggambar pohon lebih dari satu, menunjukan tidak percaya diri.

i. Pohon dengan pemandangan, misal gunung, danau, rumput menunjukan suka melamun atau meditasi, melarikan diri dari realitas, fantasi besar, mudah dipengaruhi, unsur malas dan lamban.

j. Pohon diatas bukit atau dilingkari bagian bawahnya menunjukan kemungkinan autisme, terpencil, menyendiri, merasa maha tau, takut, dan terasing.

Kelebihan dan Keterbatasan

Kelebihan dari tes menggambar pohon adalah mudah untuk diadministrasikan, cultur fair, dan tester bisa mengobservasi keterampilan motorik testee.

Sedangkan keterbatasan dari tes ini yaitu kurang objektif dalam penskoringan (Dikarenakan tes tersebut hanya mencocokkan gambar testee dengan kriteria yang ada), dan tidak bisa digunakan pada orang dengan IQ rendah karena mereka cenderung memiliki gambar yang kasar.

Referensi:

Maserati, Michelangelo Stanzani et all . 2015.  Research Article The Tree-Drawing Test (Koch’s Baum Test): A Useful Aid to Diagnose Cognitive Impairment. Behavioural Neurology Volume 2015 (2015), Article ID 534681, 6 pages http://dx.doi.org/10.1155/2015/534681

Koch, C. (1952). The Tree Test: The Tree-Drawing Test As An Aid in Psychodiagnosis. New York: Hans Huber Publisher Berne.

Instruksi Tes WZT

Perlengkapan

  • Stopwatch
  • Kertas HVS kosong
  • Pensil

Pedoman Pelaksanaan (Instruksi)

“Kepada saudara telah dibagikan lembar tes baru. Ambilah lembar itu dan isilah dengan bolpoin atau pulpen:

Nomor             : nomor pemeriksaan Saudara;

Nama                : nama lengkap Saudra;

Tgl. Lahir         : tanggal, bulan, dan tahun lahir Saudara;

Jenis kelamin : lingkarilah huruf L datau P sesuai dengan jenis kelamin saudar

Tgl. Pmr           : tanggal hari ini.”(sebutkan tanggal, bulan, dan tahunnya)

“Jika sudah selesai, letakkan alat tulis saudara dan perhatikan ke depan.

Pada lembar tes ini kita lihat ada delapan buah kotak.” (tunjukan kepada OP)

“Di dalam setiap kotak terdapat suatu yang telah ditentukan, yaitu: (tunjukan satu demi satu berurutan dari kiri ke kanan)

  • Kotak ini : titik seperti ini;
  • Kotak ini : lengkungan seperti ini;
  • Kotak ini : garis-garis seperti ini;
  • Kotak ini : bujur sangkar seperti ini;
  • Kotak ini : garis-garis seperti ini;
  • Kotak ini : garis-garis seperti ini;
  • Kotak ini : lengkungan titik-titik seperti ini;
  • Kotak ini : lengkungan seperti ini;

Tugas saudara adalah menggambar!

Buatlah satu buah gambar di dalam setiap kotak. Apa yang akan di gambar di dalam kotak itu terserah kepada saudara. Jadi, sesuka hati saudara; namun sesuatu yang telah ditentukan dalam setiap kotak hendaknya menjadi bagian dari gambar Saudara.

Dengan perkataan lain, ada seseorang yang telah mulai menggambar di dalam kotak itu dan Saudara yang harus menyelesaikannya.

Kotak mana yang akan Saudara gambar terlebih dahulu, terserah pula kepada Saudara. Pilihlah kotak yang paling mudah Saudara selesaikan.

Tiap kali selesai menggambar sebuah kotak, berilah nomor yang menunjukkan urutan menggambar Saudara.

Berilah nomor 1, di luar kotak, yang akan menunjukkan bahwa kotak itu yang Saudara gambar pertama.

Berilah nomor 2, di luar kotak, terhadap kotak yang Saudara gambar berikutnya, demikian seterusnya, sesuai dengan keurutan menggambar. (Berilah contoh d papan tulis dengan urutan yang acak)

 

Setelah itu balikkan lembar tes tersebut.

Berilah keterangan tentang gambar itu sesuai dengan urutan menggambarnya, yaitu apa yang Saudara gambar, misalnya:

  • 1 : gambar ______
  • 2 : gambar ______
  • 3 : gambar ______

(Berilah contoh di papan tulis)

“Tiap selesai satu gambar, berilah keterangan segera di halaman belakang lembar tes itu.

Saudara harus menggunakan pensil yang kami pinjamkan. Tidak diperkenankan menggunakan penggaris maupun penghapus.

Apakah ada pertanyaan?” (tunggu sebentar…)

“Jika tidak ada, ambilah pensil Saudara dan silahkan MULAI.

Waktunya 15 menit.” (diberitahukan kepada OP)

…(setelah waktu 15 menit berlalu…)

BERHENTI! Letakkan pensil Saudara.

Sekarang letakkan lembar tes tersebut di sisi meja yang kosong.”

Sumber:

Hendrojuwono, W. (1995). Tata Laksana dan Petunjuk Pemeriksaan Psikologi Klasikal. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Padjadjaran Fakultas Psikologi.

Tes Wartegg Zeichen (WZT) / The Wartegg Drawing Completion Test (WDCT)

WDCT Merupakan sebuah tes psikologi yang menggunakan gambar dengan teknik proyektif dimana pada setiap gambar terdapat elemen-elemen grafis berupa tanda yang semi structured yang akan menunjukan, memproyeksikan konten dan bagaiamana kedinamisan dan organisasi kepribadian individu tersebut. (Raport, 1977, p.31)

Bornstein’s (2007) mendefinisikan WDCT sebagai sebuah performa individu berdasarkan tes kepribadian yang dapat diklasifikasikan sebagai stimulus attribution test, dimana individu yang mengerjakan tes memberikan arti melalui interpretasi.

Spesifikasi Tes

Tes ini terdiri atas sebuah form yang terbagi atas 8 kotak berukuran 4×4 cm, dimana pada setiap kotak terdapat tanda-tanda grafis berbeda seperti titik, garis. Selama pelaksanaan tes pemeriksa dapat duduk berlwanan  di depan individu yang mengerjakan tes. Pemeriksa dapat memeberikan form test kepada individu yang dites ,memberikan pensil dan melarang untuk menggunaan penghapus serta memberikan instruksi. Individu akan diminta untuk membuat gambar dari tanda grafis yang sudah ada di dalam kotak pada form serta diminta untuk menggambar hal apa yang pertama kali dipikirkan dan diharapkan tidak menggambar sesuatu yang abstrak. Tidak perlu mengerjakan sesuai dengan urutan kotak tetapi dibebaskan sesuai keinginan dan tidak ada hambatan, individu juga dibebaskan menggambar hal apapun. Tes Wartegg sangat mudah diadministrasikan, hanya membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit, skoring sekitar 10-15 menit dan interpretasi sekitar 30 menit dan cukup mudah untuj diinterpretasikan.

Format Tes

Figure 1. The Wartegg Zeichen Test form. Copyright 1997 Hogrefe Verlag GmbH & Co. KG, Göttingen, Germany.

Tujuan Tes

Tes ini dapat digunakan untuk mengetahu kepribadian individu , melihat bagaimana struktur, organisasi, bagaimana tingkat kedinamisan dala sistem kepribadian individu. Dapat digunakan untuk kepentingan pemeriksaan dan pengambilan keputusan di bidang klinis, pendidikan dan juga setting organisasi maupun dalam bidang aplikasi psikologi lainnya. Selain itu juga dapat digunakan untuk melihat apakah seorang individu mengalami masalah patologi atau tidak.

Subjek

Tes ini dapat digunakan pada individu mulai dari anak-anak dengan usia minimal 4 tahun – 4.5 tahun, anak-anak, remaja, dewasa, lansia dan juga cocok digunakan pada individu yang mengalami disabilitas seperti gangguan pendengaran,gangguan kognitif dan lainnya.

Sejarah

Mulanya tes Wartegg ini dikembangkan oleh Krueger dan Sander dari Leipzig University dengan paham Ganzheit Psychologie atau Wholistic Psychology atau Psikologi Gestalt. Lalu dikembangkan oleh Ehrig Wartegg dan Kinget. Tes ini terdiri delapan kotak –empat deret kotak dibagian atsa dan empat deret kotak dibagian bawah, berukuran 1,5 x 1,5 inch- yang masing-masing kotak terdiri dari pola tertentu. Kinget berasumsi bahwa delapan stimulus dapat memberi sarana bagi subjek untuk mengeksplorasi terhadap berbagai nilai yang relevan.

Sander mengatakan bahwa goresan dapat menunjukan empat aspek, yaitu:

  1. Emosi
  2. Imajinasi
    • Imajinasi kombinasi, didasarkan pada persepsi dan penerimaan berbagai hubunagn realitas yang ada.
    • Imajinasi kreatif, didasarkan pada tidak adanya hubungan antara realitas dengan fantasi pribadi.
  3. Intelektual
    • Intelegensi praktis, pola pikir sistematis, fakta dan realitas konkret.
    • Intelegensi spekulatif, subjek lebih stabil dalam setiap pillihan dan tindakan.

Tiga tahap penting dalam menginterpretasi tes Wartegg:

  1. Stimulus drawing relation, melihat hubungan gambar subjek dengan stimulus yang ada, itu merupakan bagian dari gambar atau bukan. Berfungsi untuk melihat persepsi dan afeksi subjek.
  2. Content, melihat isi gambar subjek. Suatu gambar memliki isi atau makna/tidak. Berfungsi untuk melihat kecenderungan minat dan pikiran dari subjek.
  3. Execution, melihat bagaimana cara subjek membuat gambar, dai ukuran gambar, kualitas garis, dll.

Rasionalisasi Alat Tes

Munculnya Wartegg Zeihen Test (WZT) berdasarkan Gestalt Psychology, lebih tepatnya adalah Ganzheit Psychologie yang berkembang di University of Leipzig di bawah pimpinan F. Krueger dan F. Sander. Ganzheit Psychologie mengasumsikan bahwa tidak hanya objek dari eksperimen saja tetapi juga subjek dari eksperimen harus dilihat sebagai struktur. Struktur ini terdiri dari satu set orientasi dan disposisi tertentu, sifat dinamis yang cenderung pada “pemberian bentuk”, menuju pengorganisasian apapun yang diberikan pengalaman.

Pengalaman dibentuk oleh struktur individu yang berarti pengalaman harus mempunyai ciri-ciri tersebut. tetapi dalam kehidupan sehari-hari karakteristik dari struktur individu sulit dipahami sehingga perlu adanya standarisasi. Ketika situasi di mana pemberian bentuk diberikan kebebasan tetapi masih dalam hal yng dibatasi, kegiatan tersebut akan menghasilkan struktur psikis. Itulah alasan Wartegg memberikan stimulus terlebih dahulu dalah setiap kotaknya.

Wartegg juga memilih gambar yang sederhana untuk menjadi stimulus yang nantinya dirangsang oleh orang yang melakukan tes karena akan lebih bebas seseorang dalam mengerjakannya dan potensi dugaan lebih besar proyeksinya.

WZT adalah sebuah tes yang akan disediakan kertas A4 dan terdapat 8 kotak yang dibatasi garis tebal. Setiap kotak tersebut terdapat stimulus yang memberikan kesan yang berbeda-beda dan menghasilkan reaksi berbeda pula bergantung pada kepribadian peserta yang mengerjakan WZT. Peserta harus menggambar di setiap kotak agar menjadi gambar yang bermakna. Berikut adalah karakter setiap kotaknya:

  1. Rangsang 1: Titik, rangsang ini kurang menonjol dan mudah terlewatkan tetapi karena letaknya di tengah-tengah menyebabkan begitu penting dan tidak diabaikan. Oleh karena itu muncul ketegangan antara imajinasi dan pemikiran.
  2. Rangsang 2: Garis kecil bergelombang, menggambarkan sesuatu yang hidup. Rangsang ini menolak perlakuan seadanya tetapi menghendaki suatu integrasi ke sesuatu yang hidup dan dinamik.
  3. Rangsang 3: 3 garis vertikal yang menaik secara teratur, menggambarkan kekakuan, kekerasan, keteraturan, dan kemajuan, memiliki karakteristik mekanik tetapi bertumbuh dan dinamik.
  4. Rangsang 4: segiempat hitam, mengesankan materi yang berat, memiliki karakteristik mekanik tetapi tidak hidup, mudah diasosiasikan dengan suatu yang depresif.
  5. Rangsang 5: 2 garis miring yang berhadapan, menggambarkan konflik dan dinamika.
  6. Rangsang 6: garis-garis horizontal dan vertical, terlihat kaku, apa adanya tetapi karena letaknya tidak di tengah menjadi merupakan tugas yang sulit dan memerlukan perencanaan sungguh-sungguh.
  7. Rangsang 7: titik-titik membentuk lingkaran, menggambarkan sesuatu yang halus dan seperti memaksa sunjek untuk berhati-hati dan tidak gegabah.
  8. Rangsang 8: garis lengkung besar, menggambarkan ketenangan, besar, dan mudah dihadapi.

Wartegg mengakui dalam menggunakan aplikasi dari psikologi membutuhkan tipologi kepribadian yang lebih rinci. Sehingga beliau mengungkapkan 4 dimensi skema dari fungsi dasar yaitu emosi, imajinasi, kecerdasan, dan aktivitas.

Petunjuk

Dalam skoring tes Wartegg terdapat template untuk skoring yang disebut scoring blank yang terbagi menjadi dua serta saling berhadapan. Pada bagian samping scoring blank terdapat daftar kriteria yang berbentuk data kuantitatif dari diagnosis. Angka yang terdapat di bagian atas scoring blank merupakan jumlah total gambar yang diuji. Skoring dapat dilakukan secara horizontal atau vertikal.

Proses skoring dilakukan dengan tiga skala. Poin satu diberikan untuk representasi yang lemah pada suatu variabel, poin dua untuk menandakan yang sedang, dan poin tiga untuk menandakan representasi yang sangat kuat. Skoring dilambangkan dengan simbol-simbol yang memiliki makna tertentu.

Arti dari hasil skor didapatkan dari variabel yang tergantung pada konfigurasi dari skor dari tiap kelompok variabel.

Interpretasi

  1. The Personality Profile

Bagian interpretasi ini menyediakan dasar dari proses tiap individu yang menuju kesimpulan akhir. Dalam interpretasi hasil tes terdapat template yang disebut interpretation blank.

  1. Individualization of the Diagnosis

Dalam menginterpretasi hasil uji gambar semata-mata hanya kepada hasil berat skor dari tiap variabel. Lalu didiskusikan serta dipertimbangkan berat dan karakteristik dari tiap variabel. Dengan cara membandingkan, saling memodifikasi, mengkombinasi, dan lintas pemeriksaan dengan demikian membawa arti dan diagnostik yang unik. Individualisasi bersifat kompleks dan memerlukan pengetahuan mengenai arti dari seluruh kriteria.

Beberapa aspek materi yang harus dipertimbangkan adalah:

  • Waktu menggambar. Waktu rata-rata suatu kelompok mengerjakan pengujian adalah 20 menit. Waktu merupakan hal yang harus dipertimbangkan dengan semua data yang terkumpul.
  • Daya menerima vs tidak reseptif atau tidak adanya daya menerima subjek terhadap stimulus yang diakibatkan oleh (1) hubungan stimulus-menggambar dan (2) urutan pengerjaan gambar.
  • Struktur dari kriteria yang membentuk profil. Profil individu harus dipertimbangkan dari keseluruhan struktur, maka dari itu setiap komponen harus diuji berdasarkan berat masing-masing skor.
  • Variabel yang tidak ada. Absent criteria dipertimbangkan dalam hal rangkaian kelompok dari kriteria-kriteria interpretasi, dan signifikansi dari absent criteria secara langsung diintegrasikan ke dalam kesimpulan dari analisis profil.
  • Variabel yang tidak diberi skor. Kriteria untuk variabel yang tidak diberi skor adalah Form level, Reinforcement, Texture and function of the Shading, Wholes, Context-Isolation, Clarity-Vaguesness dan popularitas.
  • Kekhasan yang gambar yang ditampilkan. Merupakan sumber informasi yang bersifat sekunder, tidak ada dasar objektif dalam penginterpretasiannya. Namun, kontribusi mereka dapat diperhitungkan karena karakter individual yang tinggi mampu menggaris-bawahi tren diagnostik, membedakan poin-poin kompleks atau menghilangkan ambiguitas.

Untuk menghasilkan hasil diagnosis individual  yang tepat diperlukan analisis data pribadi dan aspek-aspek yang telah disebutkan di atas.

Keunggulan dan Keterbatasan

Keunggulan

  • Culture fair
  • Tester bisa mengobservasi keterampilan motorik testee
  • Bisa mengukur kemampuan testee untuk menganalisa sintesa, penempatan diri pada lingkungan sosial, kemampuan beraspirasi, dan kemampuan orang dalam menjalin relasi sosial

Keterbatasan

  • Interpretasi cenderung terkesan subjektif
  • Tidak memiliki penilaian yang terstandardisasi

 

Referensi:

Crissi, Alessandro dan Francesso Dentale. 2016. The Wartegg Drawing Completion Test: Inter-rater Agreement and Criterion Validity of Three New Scoring Categories.      Sapienza Universitá di Roma, Italia. International Journal of Psychology and            Psychological Therapy, 2016, 16, 1, 83-90

Grønnerød, Jarna Soilevuo. 2011. The Wartegg Zeichen Test: A Literature Overview and a Meta-Analysis of Reliability and Validity. Journal of Psychological Assessment © 2011 American Psychological Association 2012, Vol. 24, No. 2, 476–489

Iskandarsyah, A., Kustimah, & Purba, F. D. (2008). Laporan Akhir Penelitian Muda UNPAD: Hubungan Antara Hasil Tes Rorschach dengan Wartegg Zeihen Test (WZT) Dalam Menggali Aspek Emosi dari Kepribadian. Retrieved April 28, 2016, from http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/08/hubungan_antara_hasil_tes_rorschach_dengan_wzt1.pdf

Kinget, G. M. (1952). The Drawing-Completion Test: A Projective Technique for The Investigation of Personality Based on The Wartegg Test Blank. New York: Grune & Stratton.

Roivainen, E. (2009). A Brief History of the Wartegg Drawing Test. Retrieved April 28, 2016, from http://gth.krammerbuch.at/sites/default/files/articles/Create%20Article/05Roivanen-KORR2.pdf